Jumat, 06 Januari 2012

LAPORAN PENDAHULUAN FEBRIS


FEBRIS

A.  PENGERTIAN
Febris atau demam pada umumnya diartikan suhu tubuh di atas 37,2ºC. Hiperpireksia adalah suatu keadaan kenaikan suhu tubuh sampai setinggi 41,2 ºC atau lebih.
Menurut Suriadi (2001), demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara abnormal.
Tipe demam yang mungkin dijumpai antara lain :
1.    Demam septik
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.
2.    Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.
3.    Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut kuartana.
4.    Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
5.    Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.

B.  ETIOLOGI
Penyebab dari demam antara lain dimungkinkan oleh :
1.    Infeksi
2.    Toksemia
3.    Keganasan
4.    Pemakaian obat.
5.    Gangguan pada pusat regulasi suhu tubuh, seperti pada heat stroke, perdarahan otak, koma, atau gangguan sentral lainnya.
Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium serta penunjang lain secara tepat dan holistik. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan dan gejala lain yang menyertai demam.
Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3 minggu dan suhu badan diatas 38,3 0C dan tetap belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana laboratorium dan penunjang medis lainnya.




C.  PATOFISIOLOGI
Tubuh telah mengembangkan suatu sistem pertahanan yang cukup ampuh terhadap infeksi dan peninggian suhu tubuh memberikan  suatu peluang kerja yang optimal untuk sistem pertahanan tubuh. Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi. Pirogen adalah suatu protein yang identik dengan interkulin-1, di dalam hipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan  peningkatan sintesis prostaglandin E2 yang langsung dapat menyebabkan suatu pireksia. Pengaruh pengaturan autonom akan mengakibatkan terjadinya vasokontriksi perifer sehingga pengeluaran panas menurun dan pasien merasa demam. Suhu badan dapat bertambah tinggi karena meningkatnya aktivitas metabolisme yang juga mengakibatkan penambahan produksi panas dan karena kurang adekuat penyalurannya ke permukaan maka rasa demam bertambah.

D.  TANDA DAN GEJALA
1.    Suhu badan lebih 37,2 ºC
2.    Banyak berkeringat
3.    Pernafasan meninggi
4.    Menggigil

E.  PENGKAJIAN
1.    Melakukan anamnese riwayat penyakit meliputi: sejak kapan timbul demam, gejala lain yang menyertai demam (misalnya: mual muntah, nafsu makan, diaforesis, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah anak menggigil, gelisah atau letargi, upaya yang harus dilakukan.
2.    Melakukan pemeriksaan fisik.
3.    Melakukan pemeriksaan ensepalokaudal: keadaan umum, vital sign.
4.    Melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti: pemeriksaan laboratotium, foto rontgent ataupun USG.


F.   PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan diagnostik bertujuan untuk mengatahui  penyebab dari demam yang dapat meliputi :
1.    Laboratorium : sero-imunologi, mikrobiologi, hemato-kimia klinik.
2.    Biopsi
3.    Endoskopi
4.    Ultrasonografi
5.    Scanning
Pemeriksaan penunjang:
Sebelum meningkat ke pemeriksaan yang lebih mutakhir yang siap untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat diperiksa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin. Dalam tahap melalui biopsi pada tempat-tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti anginografi, aortografi atau limfangiografi.

G. PATHWAY

Infeksi
Toksemia           
Keganasan
Pemakaian obat 
Gangguan pada   pusat regulasi suhu tubuh
Febris


Hipertemia

 
 

Suhu badan > 37,2 ºC

Banyak berkeringat                 Pernafasan meninggi                   Menggigil

Resiko defisit volume cairan

 
 





H.  PENATALAKSANAAN
Usaha untuk mengatasi “demam belum terdiagnosa” adalah dengan terapi ad juvantivus. Prinsip pelaksaannya adalah bahwa obat yang digunakan harus berdasarkan suatu indikasi yang kuat sesuai pengalaman setempat dan harus bersifak spesifik. Antara lain dengan cara :
1.    Klorampenikol untuk persangkaan demam tifoid
2.    Obat antituberkulosis untuk persangkaan TBC
3.    Aspirin untuk demam remautik
4.    Antikoagulasia untuk emboli paru
5.    Kortikosteroid untuk keadaan seperti lupus eritematosus sistemik.

I.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Hipertemia berhubungan dengan penyakit atau trauma
2.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun
3.    Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif

2 komentar:

  1. Pathwaynya kok morat marit mbak cantik

    BalasHapus
  2. http://permataca-zelika.blogspot.com/2013/09/lp-obs-febris.html
    kok sama?

    BalasHapus